Postingan

Puisi; Jangan Lelap Dulu

Gambar
Jangan Lelap Dulu Karya RG Putra Jangan lelap dulu; duduk denganku, malam menanti setengah hari tuk temuimu, jangan kecewakan; sebab hadirnya cukup singkat, bahkan dalam ketidakpastian; menantimu duduk di bawahnya ialah nikmat, meski sesaat.  Jangan lelap dulu; kopi ini menanti bibirmu di cangkir, menanti kelembutan itu membuka tabir-tabir syair, menanti omongan ringan tentang hari ini, bagaimana dunia mengecewakanmu berulang kali. Jangan lelap dulu; ranjangmu bisa menunggu, sedang kemesraan terlalu mahal seperti waktu, bantu aku menulis hari ini, sebelum kita merindukannya dalam khayal 'bisakah lagi?' Jangan lelap dulu; temaram bintang tengah bernyanyi, melantunkan ayat-ayat kering tentang janji, yang terlupa di tumpahan kopi pagi tadi, juga marahmu yang tak temukan tenang setiap hari. Mari, duduklah lagi.  16-1-20 15:13 Keroya, Gontoran Lingsar

Puisi; Menyanyikanmu

Gambar
Menyanyikanmu Karya RG Putra Aku menyanyikan nyanyian malam Menaruh kantuk di pundakmu dengan mimpi sebagai bayaran Mendayu dalam bantal tuk bertamu ke alam Tuhan Bersama derai penangkap mimpi kuberkahi malammu yang penuh kelelahan Aku menyanyikan nyanyian subuh Membangunkanmu dari simpuh di sisi dingin malam lalu Segarkan titik rendahmu yang beristirahat tenangkan kelu Pada geliat rindumu akan sosok-sosok pemberkah itu Aku menyanyikan nyanyian pagi Tepat di segarnya kau mengudara menjajah hari Mengumpulkan dan menebar berkah di kelapangan negeri Meninggikan yang rendah atas berlebihnya kantong rezeki Aku menyanyikan nyanyian siang Menaruh sedikit lelah di gerakmu yang menegang Atas peluh yang mulai mandikanmu diam-diam Juga sedikit kecewa yang jadikanmu lebih sabar Aku menyanyikan nyanyian sore Di keletihan yang mendamba rehat dan secangkir teh Melambai pada deret bawah kaburnya sunset Yang tabuhkan dingin hatimu pada bekuan angkuh kian meleleh ...

Puisi; T

Gambar
T Karya RG Putra Gurindam penista,  mendendang suara,  menekan keintiman,  antara pendusta dan penghamba.  Seperti sesembahan pagi,  kau menyantap mentari,  meraup berkah sejuput nasi,  menjerit syukur tak henti.  Jidatmu lapang,  bergaris legam,  menjamah Tuhan,  di sepertiga malam.  Sebagai manusia;  hakikatmu melawan,   sebabnya silsilah manusia tak pernah baik di memo Tuhan,  tapi seberkah fitrah dalam penyakit,  selapar perut para pembait,  Tuhan melapangkan coba,  demimu,  demi tenangmu.  Itulah permainan,  kita bermain,  mereka bermain,  pada beberapa koin,  yang lenyap di cercah bersin.  Tapi Tuhan ingin kita belajar,  menggunakan berkah sebaik mungkin.  Ia bukan tega,  namun tahu seberapa kuat kau tercipta.  Maka membaiklah;  baik dalam tak...

Puisi; Deru Desember

Gambar
Deru Desember Karya RG Putra Aku melihat tangis langit begitu basah Seperti agenda rutin; mata bulan ini selalu mudah tumpah Nelangsa dalam kuartal empat menggeser keteguhan mentari Tetiba berubah cengeng tak henti sibuk menderu sedih  Aromamu tercium kalem, tersendam keringat langit Yang kering kerontang tak lagi nyata; sibuk berbasah nan arik Jerumus sunyi menjadi riuh, kala ketuknya berderap di atap itu Bunyinya membuka banyak pintu; yakni rindu dan jejak masa lalu Aku dan kau tahu bagaimana siluet abu menjadi wajahnya Sebelum menyapa sendu dalam ajian dingin berjubah sutra Kita mendamba setiap asa dalam doa-doa penghujan Ialah benar berkah-Nya itu di jejak awan Desember penghujung bulan Sungguh, aku sedikitnya kadang sesal pada Desember Sebab bawaannya tak jauh dari bingkisan masa lalu yang menggembur Sedang aku meringkuk, mengadu pada secangkir kopi hitam "Betapa jahatnya Desember; aku dipaksanya menyengam memoar" Matilah jika derua...

Puisi; Nyanyian Malam

Gambar
Nyanyian Malam Karya RG Putra Maka seperti nyanyian malam ia rela membuai tidur nyenyakmu Menyanyikan sedikit nada-nada pilu; tentang harap bumi membinasakanmu satu waktu Tapi sujud itu seperti menyudahi dendamnya Memberi sedikit kesempatan kecil tentang baiknya kau bersemedi di hadapan Esa Tentang akuan salah serta syair-syair megah yang kau terus lanjutkan Maka siapa yang tak jatuh marahnya melihat kau yang menangis sendu dengan sembahan? Akankah kau merubah janji sebagai manusia sempurna? Atau menyalak lagi, pada rumus kebebasan yang buatmu jauh dari surga? Itu terserah padamu yang menyanyikan malam di kamar tidur Bersama senandung kosong mimpi-mimpi bodohmu itu 20-11-19 18:36 Keroya, Gontoran Lingsar

Puisi; Fugu

Gambar
Fugu Karya RG Putra Ada yang berbisik pada ketenangan rindumu di ilalang basah, Yang sauhkan nada datar tentang terlupanya idam lama, Ini pengingat, entah siapa yang berbisik sesaat lalu, Suaranya seperti dendang Ibu yang menyuluh tidur bumi seperempat waktu, Kau sadar dan menyalak pada keluasan yang mengasingkan rindu, Tepat kala bujur-bujur langit menegaskan kesesatan imanmu , Namun jika itu buat kau tak percaya pada takdir, maka terus lah, Telah kutandai simpuhmu yang kerap bohong dengan sumpah, Ini bisa saja kau kembali sekekar pahlawan  bertanda bintang, Tapi tak cukup kuat melawan kenyataan yang ciptakan jahatmu bertandang sungkan, Kau, tentu masih miliki pikat penunda nafsu, Cukup sibukkanku membaikkan puja yang sempat kafir di masa fugu, Seperti potongan kayu, kau terpisah dari kesatuan besar bernyawa, Semerta tegar dalam kulit tebal yang tetap mati rasa, Sungguh, adamu itu buatku buta akan keindahan lain di bumi,  Meng...

Puisi; Di Bawah Lingkup Angsana

Gambar
Di Bawah Lingkup Angsana  Karya RG Putra  Gelisah kau duduk di sebuah meja bundar Berpayung pohon Angsana yang megah berpendar Daunnya kadang jatuh menimpa tutup kepalamu itu Menambah amarah tenang dalam diam penantianmu Sempat tergugah atas waktu yang kau sia-siakan Menjadi bodoh hari ini demi hal yang tak kau pahamkan Tapi itu bagimu sepadan Karena menanti atau mencari memiliki kesamaan yang menyakitkan Jadi kau harus membuat keputusan Yang sama-sama memberi dampak untuk hidupmu yang awam Tak kuasa hatimu meratap bersama awan gelap Yang mulai menghantuimu karena menggantung diam tanpa ucap Berkahkah yang ia bawa pikirmu? Atau cara Tuhan menghancurkan jalan kebahagiaanmu Tidakkah itu yang kau takutkan? Menjadi pengiman dengan rasa takut tanpa keikhlasan Tapi bicaralah pada daun yang kau pegang saat itu Keberaniannya menginjak kepalamu adalah pesan rindu untukmu Tanyakan padanya pesan apa yang ia bawa Lalu siapkan ragamu mendengar pesan tanpa n...