Puisi; Di Bawah Lingkup Angsana





Di Bawah Lingkup Angsana 
Karya RG Putra 


Gelisah kau duduk di sebuah meja bundar
Berpayung pohon Angsana yang megah berpendar
Daunnya kadang jatuh menimpa tutup kepalamu itu
Menambah amarah tenang dalam diam penantianmu
Sempat tergugah atas waktu yang kau sia-siakan
Menjadi bodoh hari ini demi hal yang tak kau pahamkan
Tapi itu bagimu sepadan
Karena menanti atau mencari memiliki kesamaan yang menyakitkan
Jadi kau harus membuat keputusan
Yang sama-sama memberi dampak untuk hidupmu yang awam
Tak kuasa hatimu meratap bersama awan gelap
Yang mulai menghantuimu karena menggantung diam tanpa ucap
Berkahkah yang ia bawa pikirmu?
Atau cara Tuhan menghancurkan jalan kebahagiaanmu
Tidakkah itu yang kau takutkan?
Menjadi pengiman dengan rasa takut tanpa keikhlasan
Tapi bicaralah pada daun yang kau pegang saat itu
Keberaniannya menginjak kepalamu adalah pesan rindu untukmu
Tanyakan padanya pesan apa yang ia bawa
Lalu siapkan ragamu mendengar pesan tanpa nama
Dengarkan desahannya yang tertiup angin tenang
Pesan yang berkata, "Kau menanti mahluk yang takkan datang
Tuhan menempatkan ia di sisi jalan yang berseberangan dengan jalanmu sekarang
Ia akan membunuh semua hal yang dulu kau idam dan imankan
Pergilah selagi sempat
Kemasi barangmu dan jangan lupa membawa buku catatan yang kau buat sejak kecil bersama Tuhanmu"
Kulihat kau termangu mendengar hal itu
Tak nampak memang sakit hati yang merusak batinmu
Daun itu kemudian terkejut melihat senyum yang kau pampang untuknya
Melayap ia terjatuh ke tanah karena kau membuangnya
Terlihat jenuh daun itu hancur menjadi abu
Dengan sedikit paksaan kau tahan simpul senyum pada wajahmu
Sedangkan di ujung jalan setapak itu berdiri bayangan semu
Bayangan orang yang kau nanti membubuh kelu
Ia tersenyum memandangmu yang duduk tanpa kawan
Melabuh rindu kala berlayar menanti angin mengarahkan sampan
Lalu kau berlari meninggalkan meja bundar mencari sebuah tumpuan
Pada sosok mahluk yang datang lama dinanti limpahan surga nan rupawan
Kau jatuhkan bebanmu padanya
Menjatuhkan air mata ungkapan segala rasa
Lalu kau berucap, "Aku memilihmu
Akan kunanti Surga yang kau janjikan padaku"


FKIP Unram, 10/10/17
10:12

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rantok dalam Tradisi Maulid Adat Suku Sasak Bayan, Lombok Utara

Nyongkolan: Sebuah Tradisi dalam Sudut Pandang Masyarakat Sasak

Puisi; Jangan Lelap Dulu