Puisi; T





T
Karya RG Putra


Gurindam penista, 
mendendang suara, 
menekan keintiman, 
antara pendusta dan penghamba. 

Seperti sesembahan pagi, 
kau menyantap mentari, 
meraup berkah sejuput nasi, 
menjerit syukur tak henti. 

Jidatmu lapang, 
bergaris legam, 
menjamah Tuhan, 
di sepertiga malam. 

Sebagai manusia; 
hakikatmu melawan,  
sebabnya silsilah manusia tak pernah baik di memo Tuhan, 

tapi seberkah fitrah dalam penyakit, 
selapar perut para pembait, 
Tuhan melapangkan coba, 
demimu, 
demi tenangmu. 

Itulah permainan, 
kita bermain, 
mereka bermain, 
pada beberapa koin, 
yang lenyap di cercah bersin. 

Tapi Tuhan ingin kita belajar, 
menggunakan berkah sebaik mungkin. 
Ia bukan tega, 
namun tahu seberapa kuat kau tercipta. 

Maka membaiklah; 
baik dalam tak baik menuju baik, 
sebab baik saja tak berarti apa-apa. 

Seperti surga dan neraka, 
yang didambakan semesta, 
sebagai tempat terakhir kau bersuara; 

syukurlah atau tolonglah.

Lalu siapa kau sekarang? 
Masih jahatkah? 
Masih baikkah? 

Lupakan. 

Mari berjalan serempak; menuju tahta penebusan.



2-1-20
09:40
Keroya, Gontoran Lingsar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rantok dalam Tradisi Maulid Adat Suku Sasak Bayan, Lombok Utara

Nyongkolan: Sebuah Tradisi dalam Sudut Pandang Masyarakat Sasak

Puisi; Jangan Lelap Dulu