Puisi; Fugu





Fugu
Karya RG Putra



Ada yang berbisik pada ketenangan rindumu di ilalang basah,
Yang sauhkan nada datar tentang terlupanya idam lama,
Ini pengingat, entah siapa yang berbisik sesaat lalu,
Suaranya seperti dendang Ibu yang menyuluh tidur bumi seperempat waktu,


Kau sadar dan menyalak pada keluasan yang mengasingkan rindu,
Tepat kala bujur-bujur langit menegaskan kesesatan imanmu ,
Namun jika itu buat kau tak percaya pada takdir, maka teruslah,
Telah kutandai simpuhmu yang kerap bohong dengan sumpah,


Ini bisa saja kau kembali sekekar pahlawan  bertanda bintang,
Tapi tak cukup kuat melawan kenyataan yang ciptakan jahatmu bertandang sungkan,
Kau, tentu masih miliki pikat penunda nafsu,
Cukup sibukkanku membaikkan puja yang sempat kafir di masa fugu,


Seperti potongan kayu, kau terpisah dari kesatuan besar bernyawa,
Semerta tegar dalam kulit tebal yang tetap mati rasa,
Sungguh, adamu itu buatku buta akan keindahan lain di bumi, 
Mengarahkan tekad yang sempat bulat kembali sibuk merangkum memori, 


Namun kau tetap tak bisa lari, sebab kaulah biang kesesatan,
Dan aku harus pergi darimu, tanggalkan jubah nyaman yang mematikan,
Meski itu artinya membunuhmu setiap malam,
Tenangku lebih bernilai dari larianmu yang singkat menawan,


Hiduplah sebagaimana kisah yang pernah kau rencanakan,
Ganggulah pucuk lain yang ada pada jejak-jejak khayalan,
Jika bukan aku yang ajarkan kau sakit, maka yang lain pasti,
Nikmati senangmu menyarit luka berkali-kali; seperti pertama kali,


20-10-19
22:02
Kroya, Lingsar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rantok dalam Tradisi Maulid Adat Suku Sasak Bayan, Lombok Utara

Nyongkolan: Sebuah Tradisi dalam Sudut Pandang Masyarakat Sasak

Puisi; Jangan Lelap Dulu