Puisi; Deru Desember
Deru Desember
Karya RG Putra
Aku melihat tangis langit begitu basah
Seperti agenda rutin; mata bulan ini selalu mudah tumpah
Nelangsa dalam kuartal empat menggeser keteguhan mentari
Tetiba berubah cengeng tak henti sibuk menderu sedih
Aromamu tercium kalem, tersendam keringat langit
Yang kering kerontang tak lagi nyata; sibuk berbasah nan arik
Jerumus sunyi menjadi riuh, kala ketuknya berderap di atap itu
Bunyinya membuka banyak pintu; yakni rindu dan jejak masa lalu
Aku dan kau tahu bagaimana siluet abu menjadi wajahnya
Sebelum menyapa sendu dalam ajian dingin berjubah sutra
Kita mendamba setiap asa dalam doa-doa penghujan
Ialah benar berkah-Nya itu di jejak awan Desember penghujung bulan
Sungguh, aku sedikitnya kadang sesal pada Desember
Sebab bawaannya tak jauh dari bingkisan masa lalu yang menggembur
Sedang aku meringkuk, mengadu pada secangkir kopi hitam
"Betapa jahatnya Desember; aku dipaksanya menyengam memoar"Matilah jika deruanmu selalu takutkan tidurku
Seperti ancaman pada sandal berlumpur saat berlari menghindarimu
Aku sesalkan kau yang membasahi bumi berkali-kaliPergilah siksa orang lain; jangan aku yang lemah ini
Desember, tolong hiraukan aku sesaat saja
Beri waktu kututup mata sebelum bingkis basah datang mendera
Sebab kau dan aku sama-sama perihal bab terakhir
Sebentar lagi selesai, dalam bacaannya yang tertulis air
1-12-19
22:42
Keroya, Gontoran Lingsar

Komentar
Posting Komentar