Rantok dalam Tradisi Maulid Adat Suku Sasak Bayan, Lombok Utara
Pada dasarnya Maulid Adat merupakan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Sasak (khususnya masyarakat Sasak di daerah Bayan, Kabupaten Lombok Utara) sebagai suatu kegiatan merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Perayaan maulid adat ini biasa dilakukan dua hari setelah hari setelah hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang sebenarnya. Kegiatan yang dilakukan masyarakat Bayan ini merupakan hasil akulturasi antara tradisi suku Sasak dan nilai-nilai keagamaan (agama Islam) yang ada. Mayoritas suku Sasak Bayan merupakan penganut aliran yang disebut “Waktu Telu”, yang secara umum dapat diartikan sebagai suatu kepercayaan yang tidak membatasi diri pada konsep kepercayaan tertentu. Artinya mereka tetap melakukan apa yang dilakukan leluhur pada zaman dahulu, meskipun apa yang mereka lakukan tersebut tidak sesuai dengan hakikat agama yang mereka anuti yaitu dalam hal ini agama Islam.
Dalam kegiatan maulid adat terdapat suatu tahap kegiatan yang menarik, yaitu kegiatan di mana para masyarakat suku Sasak berkumpul di daerah yang berjuluk “Kampu”, yang merupakan desa asli atau daerah yang pertama kali ditinggali oleh masyarakat suku Sasak Islam Bayan. Di sana mereka melakukan rangkaian tahap maulid adat yang ada, diantaranya adalah “Menutu Pare” (menumbuk padi). Kegiatan menutu pare yang dilakukan masyarakat dari berbagai dusun tersebut menciptakan suatu irama yang indah dari ketukan/tumbukan lesung yang mereka gunakan menumbuk padi yang disebut “Rantok”, yaitu suatu wadah berbentuk layaknya sampan yang cukup panjang. Asal usul bentuknya yang unik memang tidak terlalu spesifik dapat dijelaskan, namun yang pasti penciptaan bentuk tersebut secara tidak langsung ditujukan agar pekerjaan menumbuk padi dapat dilakukan dengan cepat, karena dapat menampung hampir 14 orang penumbuk padi. Sebenarnya wadah yang digunakan menumbuk padi tersebut tidak semata-mata khusus hanya digunakan pada waktu perayaan adat saja, melainkan sejak dahulu kala memang digunakan sebagai wadah menumbuk padi masyarakat Sasak Bayan. Selain ditujukan untuk mempercepat pekerjaan, terdapat pula maksud lain atas bentuknya yang memanjang itu, yaitu menciptakan sifat kegotongroyongan dan sosialisasi pada diri masyarakat untuk mempererat tali persaudaraan (hubungan antar masyarakat suku Sasak Bayan). Karena dalam kegiatan menutu pare, masyarakat suku Sasak Bayan dapat bercengkrama dengan masyarakat lain, sehingga hubungan sosial yang terjalin antara mereka selalu baik dan harmonis.
Apabila diperhatikan, kegiatan maulid adat pada saat ini mulai terpengaruh oleh perkembangan zaman, hal ini terlihat dari bagaimana pakaian yang dikenakan oleh masyarakat yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Sangat bertolak belakang dengan ketentuan yang ada dalam prosesi kegiatan seharusnya. Oleh sebab itu, para tetua adat dan masyarakat yang peduli akan pentingnya pelestarian tradisi ini berjuang agar apa yang telah dilakukan sejak dahulu kala dapat tetap ada dan dikenal oleh masyarakat banyak, terlebih lagi untuk generasi penerus suku Sasak Bayan saat ini.
Apabila diperhatikan, kegiatan maulid adat pada saat ini mulai terpengaruh oleh perkembangan zaman, hal ini terlihat dari bagaimana pakaian yang dikenakan oleh masyarakat yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Sangat bertolak belakang dengan ketentuan yang ada dalam prosesi kegiatan seharusnya. Oleh sebab itu, para tetua adat dan masyarakat yang peduli akan pentingnya pelestarian tradisi ini berjuang agar apa yang telah dilakukan sejak dahulu kala dapat tetap ada dan dikenal oleh masyarakat banyak, terlebih lagi untuk generasi penerus suku Sasak Bayan saat ini.
Foto-foto di atas merupakan kegiatan "Menutu Pare" yang dilakukan masyarakat suku Sasak Bayan pada acara Maulid Adat 3 Desember 2017 yang lalu.




Komentar
Posting Komentar