Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2020

Puisi; Jangan Lelap Dulu

Gambar
Jangan Lelap Dulu Karya RG Putra Jangan lelap dulu; duduk denganku, malam menanti setengah hari tuk temuimu, jangan kecewakan; sebab hadirnya cukup singkat, bahkan dalam ketidakpastian; menantimu duduk di bawahnya ialah nikmat, meski sesaat.  Jangan lelap dulu; kopi ini menanti bibirmu di cangkir, menanti kelembutan itu membuka tabir-tabir syair, menanti omongan ringan tentang hari ini, bagaimana dunia mengecewakanmu berulang kali. Jangan lelap dulu; ranjangmu bisa menunggu, sedang kemesraan terlalu mahal seperti waktu, bantu aku menulis hari ini, sebelum kita merindukannya dalam khayal 'bisakah lagi?' Jangan lelap dulu; temaram bintang tengah bernyanyi, melantunkan ayat-ayat kering tentang janji, yang terlupa di tumpahan kopi pagi tadi, juga marahmu yang tak temukan tenang setiap hari. Mari, duduklah lagi.  16-1-20 15:13 Keroya, Gontoran Lingsar

Puisi; Menyanyikanmu

Gambar
Menyanyikanmu Karya RG Putra Aku menyanyikan nyanyian malam Menaruh kantuk di pundakmu dengan mimpi sebagai bayaran Mendayu dalam bantal tuk bertamu ke alam Tuhan Bersama derai penangkap mimpi kuberkahi malammu yang penuh kelelahan Aku menyanyikan nyanyian subuh Membangunkanmu dari simpuh di sisi dingin malam lalu Segarkan titik rendahmu yang beristirahat tenangkan kelu Pada geliat rindumu akan sosok-sosok pemberkah itu Aku menyanyikan nyanyian pagi Tepat di segarnya kau mengudara menjajah hari Mengumpulkan dan menebar berkah di kelapangan negeri Meninggikan yang rendah atas berlebihnya kantong rezeki Aku menyanyikan nyanyian siang Menaruh sedikit lelah di gerakmu yang menegang Atas peluh yang mulai mandikanmu diam-diam Juga sedikit kecewa yang jadikanmu lebih sabar Aku menyanyikan nyanyian sore Di keletihan yang mendamba rehat dan secangkir teh Melambai pada deret bawah kaburnya sunset Yang tabuhkan dingin hatimu pada bekuan angkuh kian meleleh ...

Puisi; T

Gambar
T Karya RG Putra Gurindam penista,  mendendang suara,  menekan keintiman,  antara pendusta dan penghamba.  Seperti sesembahan pagi,  kau menyantap mentari,  meraup berkah sejuput nasi,  menjerit syukur tak henti.  Jidatmu lapang,  bergaris legam,  menjamah Tuhan,  di sepertiga malam.  Sebagai manusia;  hakikatmu melawan,   sebabnya silsilah manusia tak pernah baik di memo Tuhan,  tapi seberkah fitrah dalam penyakit,  selapar perut para pembait,  Tuhan melapangkan coba,  demimu,  demi tenangmu.  Itulah permainan,  kita bermain,  mereka bermain,  pada beberapa koin,  yang lenyap di cercah bersin.  Tapi Tuhan ingin kita belajar,  menggunakan berkah sebaik mungkin.  Ia bukan tega,  namun tahu seberapa kuat kau tercipta.  Maka membaiklah;  baik dalam tak...