Puisi; Kafein
Kafein
~RG. Putra~
Hangat yang menguap membasuh pagi atas kepantasan minuman tua,
Ini seperti kau, pahit sedikit manis dan hangat,
Megah teduhkan batin yang lama lelah mengumpat,
Mungkin ada kali ini saat kuhirup aroma tubuh sengitmu,
Bayang-bayang malaikat malam termangu sayu,
Yang sejak tadi sibuk merayu insan berlaku khidmat berjejak,
Alangkah lupa ia rupanya, bahwa semua adalah penjahat bertampang bijak,
Lalu apa kenikmatan ini yang buatku bertagih menjamahmu?
Kecantikan? Sedikit tidak itu tak benar pikirku,
Bijakmu? Besar kemungkinan pun tak tentu,
Sebab yang terlampau pagi ini tak terangkum pada secangkir kopi susu,
Tapi jejak bibirmu di cangkir kopi menceritakan semua,
Ada gelisah tersembunyi yang kau tumpukkan lama,
Kumpulan yang tersebar menanti tuk dikumpulkan,
Tentang patahnya perasaan yang terus kau simpan,
Tapi sudahlah, kau boleh ikut bersamaku dalam senandung malam,
Biar kita pekatkan gelapnya kecewa yang mulai mendendam,
Sayangku, ada yang tak pernah diceritakan malam padamu,
Yakni rindunya akan tawa yang selalu kau habiskan bersama pagi biru,
Ia cemburu, cemas setiap waktu,
Takut tak jumpai gelak tawamu itu,
Tapi kau benar, simpanlah setiap asa di bibir yang bersentuhan dengan cangkir,
Biar kuterka cerita pahitmu yang terus mengikir satir,
Dan kopi, tenangkan geliat amarah atas bohongmu yang menggenang,
Ini kenikmatan yang kunikmati tentangmu selain di ranjang,
31/08/19
11:17
Kroya, Lingsar

Komentar
Posting Komentar