Kumpulan Sajak; ARKIAN
ARKIAN
Karya RG. Putra
Karya RG. Putra
I
Lalu melantun, tenangku buihkan rasa nyaman
Untuk menghela panjang sekali lagi, menanti rangkulan malam
Delusiku ringan, menua denganmu pada rumah kayu berlegam
Pada corak tanah yang lusuh dan menghitam
Lalu bersandar padaku saat hujan mandikan alam
Bersama kopi, kita nikmati tugas abadi Tuhan
Sedang kita sibuk bersendu, hening berbalut selimut
Menatap di hadapan jendela, indahnya guyur tersambut siput
II
Pada buram itu, rahasia memang tak nampak
Cekatnya menapik ruam tuk sembunyi menyata telak
Siapa sangka gelapnya kopi menyimpan kenikmatan bertagih
Siapa sangka putihnya gula meracuni darah kendati mati
Senyum itu, melengkung ramah menjamah
Merebah pada sayunya ruang teduh bertandu sumpah
Untuk senyap, di cela yg meluka pada diam sengaja
Atau peluk, yang rela terima bertabuh cinta
Tapi kau hanya koma, yang menutup seru di balik tanya
Sedang ku masih tanya, yang membuka di balik titik semula
Mungkin satu kali lagi, sebentar saja, akan kunikmati drama satu babak
Sebelum kuhilang, pada remah-remah nektar yang semerbak
III
Pada yang tak tuntas, sibuk berbenah
Pada keluh kesah yang sibuk bercurah
Pernah rasanya sekali, bermimpi tentang renda
Untuk sekedar membangun ruang tuk singgah
Tapi tak apa, rintik kan tetap berstatus hujan
Meski kisaran besar memihaknya berbeda haluan
Sendu tentu, tapi cukup kuat ku berdogma
Bahwa "aku tak gagal, hanya bukan kau saja"
Mungkin diammu menuai dendam yg panjang
Tapi dendamku sederhana; Kebahagiaanmu terang
IV
Lenguh ini adalah sebuah dansa romantis,
Yang tersuar tak lebih dari kau dan aku,
Kita pun kadang egois, bahwa iblis terkadang manis,
Membuahi dosa untuk kita beradu rayu, dalam kelambu bergumul candu
V
Karena wanita hanya tentang yang mudah pergi, dan lelaki hanya sosok yang mudah kembali
Karena wanita hanya tentang mendamba, dan lelaki hanya tentang menghamba
Karena wanita hanya tentang hal baru, dan lelaki hanya tentang yang lalu
Karena wanita hanya tentang meluka, dan lelaki hanya tentang menduka
Karena wanita hanya tentang penerima, dan lelaki tak lebih dari penderma
VI
Mendung ini cairkan harap yang tak berinduk
Meluluhkan asa yang menyumbat sejenak cerita rindu
Tapi dingin dan rintik ini mengingatkan lupa yang dendam
Pada lehermu yang tak bias pada kecupan ringan
Ah... Hujan, bila saja tak ada kuasa di balikmu
Akan kugubah setiap tetes menjadi pelaknat waktu
Agar tetap cerah simpuh yang kini kugubah untuk yang baru
Dan lupa, senandung masa lalu yang menyiul dekat dengan bibir perempuan yang kini dekapku
Tapi sungguh, memoar itu menjadikanku sosok yang teduh
Bahwa sedikitnya itu kecewa, tetaplah rasa yang pernah merindu dulu
VII
Permainan, sungguh kita adalah permainan
Berlaku tuk menyenangkan hasrat kegembiraan
Dalam tawa, kita benihkan memori tuk mekar kelak
Batin yang bersenandung menjadi riak penyegar sendak
Kita, entah kau tahu tidak, tapi cukup jelas
Mudah bercinta sekadar temu berkeling impas
Kadang merajuk, hasratmu keluh inginkan sua
Rindukan duduk berwaktu lama dalam redup cahaya senja
Sayang, kaulah benar detakan itu
Yang deburkan gerak intuisi remaja lalu
Yang jadikan tidurku bugar bermimpi kelu
Yang redam cekikan masa lalu terbirit malu
Tentu, kadang tak kita tahu bersama
Senang yang mudah kita ciptakan berdua saja
Pada sepi, tanpa desiran ombak pun sunset
Hanya kita, berteman derak durasi movie dan sebotol sprite
Tanganku, ya, si nakal kecil
Ia nakal memang, senang menyentuh kau yang sentimentil
Bergeli pada sentuhan yang memekik
Rebah pada hamparan lembut dan wanginya kulit
Tapi benar, kita berdusta
Berdusta pada lentikan momen berjuluk kala
Pada hikmatnya Tuhan memberkati laku pahala
Yang kita hianati demi kasih sayang sang bunda dosa
VIII
IX
Kembali lagi pada riuh rintikan hujan, yang kupersunting bersama kopi dan buku
Cukup teduhkan lupa akan keruh ego yang lalu
Saat matahari putuskan diri tak muncul lagi di hari ini
X
Untuk sekian banyak uap, hari ini lebih terasa bias
Bukan pada hangat kafein yang terus kugubah riang, tapi untuk berbohong bahwa ini adalah kenikmatan.
Ya, aku berbohong, seperti kopi dan senggama
Pekat sebagai kata, sepat sebagai rasa
XI
Dudukku masih sama
Tetap di bawah ranumnya daun-daun hijau dengan urat kecoklatan
Bertahan pada satu tatapan, ke arah kasak-kusuk gunung dan awan yang saling berbisik lemah
Dan aku, tentu masih belajar menikmati
Bagaimana keindahan ini menjadikanku kecil pada guratan besar sang artis
Pada titik yang kududuki dengan ragam pelapah suci penegur rindu, yang kutautkan dengan sunyi
Ah, rindu...
(Desember 2018 - April 2019)

Komentar
Posting Komentar