Puisi; Sepuhan Langit



SEPUHAN LANGIT 
Karya RG. Putra 


Butir-butir pasir, bergerak menyebar di darat
Gumpalan-gumpalan air pun merambat memakan darat
Langit hanya melihat, syukurnya pada bumi yang rela pula
Mengasihi hamba penakut yang tak takut  nun jua
Ada yang menyepuh hari dengan akal
Sebagian menyepuh hari dengan iman
Dosaku tak biarkan laut dan tanah, menipu manis pahala
Emasku adalah kala, jauh merasuk sang cuma
Sedang pagi ini, masih saja malasku yang memimpin
Di antara kumpulan kaki yang menginjak sembah sejati angin
Inginku masih, langit meminang bumi
Maharnya tak angkat mineral pada laut yang mengangkasa
Pijar yang tetap menukik pada lembayung
Yang ku tunggu saat sesal bersama kopi merindu sendu
Inilah sayang, apa yang tak terjanjikan
Sibukku menerka haram, tak sudikan surga yang muram
Dendam, pilihan nafas lenguhkan adam
Berdendang malam saat mengenang manisnya geram
Aku bukan lagi sang langit, pesanku tak tersampaikan
Bumi juga merunyam, merunduk sunyi di balik jeruji
Pesankulah nyawa mereka yang mengangkat tangan
Dan sepuhkulah membunuh iman mengolok akal, hari ini



SMAN 1 Narmada,
22-09-18
09:51

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rantok dalam Tradisi Maulid Adat Suku Sasak Bayan, Lombok Utara

Nyongkolan: Sebuah Tradisi dalam Sudut Pandang Masyarakat Sasak

Puisi; Jangan Lelap Dulu