Puisi; Luruh Rintik




LURUH  RINTIK  
Karya RG. Putra 


Sambut rintik yang datang mengetuk pagi dan malammu
Terlalu jauh sudah ia merangkak, untuk sekedar menjatuhkan diri di atap rumahmu
Ia hadiah, meski bungkusnya kadang gulita
Ia dahaga, restu penimang hala surga
Atau boleh kau sebut neraka, ia terima
Karena tak sedikit nyawa yang ia kunyah tatkala melesak limbah

Riuhkan bumi, nafikan kala
Jangan selalu terbuai lembayung yang angkuh akan indahnya
Aku tahu, kau memang mudah terpengaruh
Terkejut? Tentu tidak, karena pangkatmu tetap sang candu
Sambutmu adalah penantian surga seorang hamba
Acuhmu adalah harap neraka seorang durjana
Tapi tak apa, lenguhku tetap menempatkan diri pada doa
Racauan tangan tengadah menerka sangka kuasa
Sulit menipu takdir, untuk sekedar memindahkan tujuan akhir
Ini tak semudah merayu supir untuk membelokkan setir

Jika kau bertanya, mengapa antri untuk tersakiti?
Aku antri, karena jalan tak untuk sepi
Dan sakit, tak lebih hanya hutang yang terlupakan
Meski itu luka yang tertawa penuh sakit di ambang angan
Suaraku masih satu, rebahlah pada rintik yang pertama mengetuk
Biarkan Tuhan bermain takdir, biar kita memainkan waktu




25-08-18 15:09
Kroya, Lingsar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rantok dalam Tradisi Maulid Adat Suku Sasak Bayan, Lombok Utara

Nyongkolan: Sebuah Tradisi dalam Sudut Pandang Masyarakat Sasak

Puisi; Jangan Lelap Dulu