Cerpen; Rumah Laba-laba
RUMAH LABA-LABA
Karya RG. Putra
Langit-langit kamar ini telah menjadi sarang laba-laba sekarang. Kulihat beberapa dari mereka berlarian menangkap nyamuk atau semut yang terperangkap pada jaring-jaring yang lengket. Mataku berkeling melihat kejadian itu. Seakan tak pernah terbayangkan, bahwa mereka mampu menolak gravitasi dan malah menjadikannya rumah untuk mencari nafkah membesarkan anak-anak mereka. Lalu, selayak orang tua yang gembira membawa buah tangan untuk anaknya, mereka pun tak kalah gembira. Meski yang dibawanya adalah mahluk hidup tergulung benang-benang halus yang kemudian akan dihisap cairan tubuhnya.
"Yah, dari sudut pandang tertentu, itu suatu keindahan." Pikirku mantap.
Sejenak memandang kejadian tepat di atas tempatku berbaring itu, membuatku lupa akan banyak hal. Lupa di mana saat ini aku berada. Lupa bahwa tempat tinggalku memiliki tragedi yang mengerikan. Lupa bahwa aku adalah manusia seperti orang banyak yang nantinya akan tersiksa atas kodrat yang dimilikinya sendiri. Atas kemampuan berlaku dan berpikirnya sendiri. Atas asumsi yang tak sesuai dengan mayoritas besar yang mengelu-elukan kebaikan, namun tak tahu apa kebaikan yang sebenarnya. Tempat dengan banyak tuntutan. Muara gengsi dan arogansi. Lalu neraka yang diciptakan dengan alasan tak jelas untuk mengimbangi surga. Atau orang-orang yang berceloteh keras menakutinya namun tak dapat lari darinya.
Aku tersentak kaget. Seekor laba-laba jatuh di atas pipi kiriku. Kakinya yang dipenuhi rambut-rambut halus terlihat sedikit menakutkan. Kurasa ia sama kagetnya denganku. Terlihat dari cara berlarinya yang cepat menaiki tembok dan menghilang di antara jaring-jaringnya yang menumpuk banyak.
Aku bangkit dari posisi tidurku dan duduk sejenak. Saat itu juga segala bentuk realitas merengsek masuk ke celah-celah syaraf otakku. Realitas bahwa aku hidup dan tinggal di antara masyarakat sosialis apatis yang tak peduli akan masalah besar yang tumbuh akibat perilaku mereka.
Seandainya laba-laba itu membawaku hidup bersamanya, aku akan sangat bahagia. Meskipun setiap hari harus dihadiahkan gumpalan putih yang siap kuhisap cairan tubuhnya. Akan kunikmati, sangat kunikmati, selayak bayi yang menyusu pada ibunya di pagi hari. Dan hidup tanpa terikat presisi atau doktrinasi.
Aku bangkit dari posisi tidurku dan duduk sejenak. Saat itu juga segala bentuk realitas merengsek masuk ke celah-celah syaraf otakku. Realitas bahwa aku hidup dan tinggal di antara masyarakat sosialis apatis yang tak peduli akan masalah besar yang tumbuh akibat perilaku mereka.
Seandainya laba-laba itu membawaku hidup bersamanya, aku akan sangat bahagia. Meskipun setiap hari harus dihadiahkan gumpalan putih yang siap kuhisap cairan tubuhnya. Akan kunikmati, sangat kunikmati, selayak bayi yang menyusu pada ibunya di pagi hari. Dan hidup tanpa terikat presisi atau doktrinasi.

Komentar
Posting Komentar