Cerpen; Sajak Huda
SAJAK HUDA
Karya RG. Putra
"Mengganggu."
Mataku terbuka mendengar ucapan itu. Sudah puluhan kali ucapan singkat itu membangunkan lenaku dari tidur malam. Aku bermimpi, tapi tidak pernah bisa kuingat mimpi tadi. Terasa seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku. Pikiran atas mimpi tadi. Tidak indah, tapi cukup membuatku berkeringat di tengah udara dingin ini. Aku membangunkan posisi terlentangku. Duduk sejenak dan melihat jam yang menunjuk waktu 9:30 pagi.
Kebiasaan pagiku adalah terpaku melihat dinding kamar ini. Tentunya setelah mencuci muka sesaat yang lalu. Dinding kamarku penuh dengan coretan. Dipenuhi oleh gambar-gambar yang kubuat saat bosan. Coretan itu membentuk gugusan tubuh seorang pria. Ia membungkuk dengan tangan terikat di punggungnya. Pria itu menangis, membungkuk selayak menyembah. Namun tangisannya tidak terlihat karena topeng yang tersemat menghalangi curahan wajahnya. Topeng itu memiliki lengkungan senyum bahagia. Cukup membuat orang lain berpikir bahwa kebahagiaan adalah rasa yang ia tampilkan. Sedang di hadapan pria itu, ada seorang wanita bertopeng kelinci dengan tubuh setengah telanjang. Hanya seuntai kain yang menutupi lekuk tubuh wanita itu. Coretan inilah yang paling sering membuatku terpaku lama. Aku selalu menikmati setiap lekuk guratan yang membentuk keseluruhan tubuh mereka. Yang pada saat ini menjelma sebagai seni dua dimensi yang menyita dimensi kehidupanku.
Apa ukuran keindahan? Pikirku sejenak. Apakah saat di mana perasaan tergugah atas aurora cerah yang merekah di hati? Atau dengan kata lain, pengalaman atas suatu hal yang baik. Ataukah mungkin, keindahan adalah suatu kenikmatan atas kekacauan, rasa sakit, dan kecewa? Karena hanya pada pengalaman seperti itu manusia dapat berpikir untuk berubah. Belajar akan nilai yang tersemat pada hidup mereka. Tapi sudahlah, itu adalah batasan individual yang terpecah-pecah. Dan aku bangga dapat memikirkan jutaan pecahan itu dalam satu pecahanku.
Mataku masih tak kualihkan dari coretan itu. Tetap pada fokus yang sama. Pria dan wanita ciptaanku ini. Lama kupandangi, ternyata karyaku ini memiliki ketidakseimbangan. Tubuh-tubuh mereka lebih besar dibandingkan kepala mereka. Dan kurasa hampir setiap coretanku seperti itu. Aku baru tersadar sekarang. Seolah coretan itu menyiratkan bahwa manusia adalah mahluk pekerja, bukan pemikir. Kurasa terlalu bodoh jika menyimpulkan kuasa manusia terletak pada wadah menjijikkan bernama otak. Wadah kecil itu yang membunuh segalanya. Membangun konsepsi dasar akan sopan santun, ahlak, bahkan ideologi. Sungguh menyedihkan.
Aku meninggalkan kamar anarki itu. Berjalan menuju beranda rumah, tepat di mana seorang lelaki tua duduk terdiam dengan mata sayu menatap hamparan tanah hijau di hadapannya. Ia adalah orang yang menerima pelarianku, dan memperkenankan untuk hidup di rumah tuanya ini. Tidak jelas siapa namanya. Ia selalu menyebutkan nama berbeda saat aku memanggil nama yang ia perkenalkan. Hari ini ia bernama Edi, Edi Rusparanto Alim. Kemarin Algi Ahmad, dua hari yang lalu Rudi Agro, sedangkan saat pertama kali aku bertemu dengannya, ia bernama Muhammad Dzoha. Entahlah, tapi aku tidak mempermasalahkan itu, karena ia memang orang baik secara sikap. Tapi tidak masa lalunya.
Orang tua ini pernah membunuh banyak orang. Seperti itu yang ia ceritakan saat namanya masih Burhan Kidal. Ia memiliki kecenderungan melihat kesengsaraan orang lain sebagai doa untuk kematian. Jadi, ia hanya membunuh orang-orang yang menderita. Dan menyebut bahwa Tuhan memberi kehidupannya untuk menutup siklus penderitaan.
"Tuhan sangat baik, Ia menciptakan manusia dengan keindahan sempurna. Jauh di atas kesempurnaan Tuhan itu sendiri." Ungkapnya padaku suatu hari yang lalu.
"Diriku yang dulu adalah seorang penjagal. Setiap simbol penderitaan adalah pesan pelaksana hukuman mati." Sambungnya dulu.
Terkadang aku berpikir ada masalah dalam otaknya. Mungkin sejenis tumor ganas yang menggerogoti sel-sel syaraf otak yang menghambatnya untuk berpikir logis. Tapi mata itu, tegap layaknya bulatan bulan. Jelas dan tajam. Tidak seperti bulatan matahari yang penuh dusta dengan cahaya menyilaukan yang seolah menutupi keasliannya. Sebagian dari diriku memikirkan perkataannya itu, tapi sebagian lagi menganggap itu hanya bualan dari orang tua yang minta diperhatikan.
Tidak terasa sekarang kakiku tengah melangkah di antara tundukan rumput dan perkasanya langit. Dua golongan zat yang menjauhkan diri untuk manusia. Memberi ruang di antara kuasanya sebagai tempat manusia bermain. Ya, bermain. Membangun dosa dengan seksama, mengoleksi pahala, dan sebagian lagi mengemas logika menantang ketentuan dosa dan pahala. Cukup menyenangkan bagiku menyadari hal itu. Karena aku dapat mempertentangkan semuanya dalam duel yang tak berkesudahan. Terus-menerus, menjadikannya perang suci dalam ketenangan otak yang menjijikkan. Aku suka itu.
Terlihat di kejauhan seorang perempuan seumuranku duduk termenung di bawah sebuah pohon besar, pohon Angsana. Kesendiriannya seolah menggambarkan kesepian yang ia derita. Ia menoleh dan memandang ke arahku. Tatapan itu, tatapan bulan. Ia memiliki tatapan bulan. Sejenak ia membuka satu persatu kancing sweter putih keabu-abuannya. Memamerkan dua buah surga itu kepadaku. Jalanku terhenti. Aku melihatnya sembari mengerutkan kening, agak heran dengannya. Bersamaan itu pula, ia mengeluarkan sebilah pisau kecil dari saku sweternya. Kemudian menusuk-nusuk leher putihnya beberapa kali. Sehingga darah segar mengucur deras melewati dadanya yang telanjang. Aku melihat saja tanpa ekspresi, tidak tahu harus berbuat apa. Tapi perempuan itu tiba-tiba berdiri. Mengarahkan pisau kecilnya ke arahku dari kejauhan. Aku tetap saja diam tanpa gerak untuk beberapa saat. Sampai akhirnya gerombolan kambing yang digembalakan seorang wanita paruh baya menyadarkanku dari diam itu.
"Hush...hush..." teriaknya mengarahkan gerombolan kambing agar berjalan ke arah padang rumput yang rimbun di utara sana. Aku meminggirkan diri, mempersilahkan wanita dan kambingnya itu berjalan leluasa. Saat kembali melihat perempuan itu, ia tengah berlari menjauh ke arah rumah-rumah desa di sana. Meninggalkan pohon itu berdiri sendiri, lagi.
Aku yakin dengan apa yang kulihat. Ia sangat jelas melukai dirinya sendiri dengan pisau itu. Tapi jika benar, kurasa ia seharusnya terkapar sekarang. Dengan lumuran darah di tubuhnya yang setengah telanjang. Lalu aku akan mendekati tubuh itu. Memandangnya sejenak. Menjelajahi seluruh lekuk tubuh semampainya yang terkulai kaku. Kemudian berkata, "Menyenangkan melihat kau bertelanjang dada. Terima kasih telah memperlihatkannya padaku." Aku menghela nafas sejenak.
"Seperti apa rasanya? Menjadi bagian yang menghentikan lajur takdir. Menyumpahi Tuhan dengan umpatan pisau kecil yang sekarang telah membuatmu berstatus sama dengannya; benda mati." lanjutku pelan.
Aku mengusap rambut hitam yang sedikit menutupi wajah cantiknya. Mata yang masih terbelalak itu seakan menatapku penuh kasih. Bulatan bulan yang terpotong sedikit oleh kelopak matanya. Sungguh sempurna perempuan ini. Sejenak ia menoleh ke arahku, masih dengan ceceran darah menggenangi dadanya yang telanjang. Berusaha menggerakkan bibir bekunya seraya berkata, "Aku melihat sayap malaikat di punggungmu. Sayap putih yang bergetar pelan mengibaskan angin sejuk." Ia diam sejenak.
"Tapi, kau memiliki tanduk besar di kepalamu. Siapa kau?" lanjutnya pelan.
Aku hanya menatap wajah kecilnya. Terlihat begitu layu wajah itu. Lelah rupanya ia. Dan saat aku hendak berucap, ia memotong dengan berkata, "Aku adalah bumi, apa yang dilakukan surga dan neraka di sini?" ucapnya lagi.
"Tidak ada bumi, surga, ataupun neraka di sini. Semua adalah simbol ilusi untuk keberadaan yang tak berada." aku diam sejenak, melihat ekspresi wajah lelahnya.
"Aku dan dirimu hanya secercah pecahan kecil dari sebuah cangkir yang berisi kopi. Pecahan yang membuat kepekatan cairan di dalamnya tetap berada di tempatnya. Menjaga kepekatan memiliki konsentrasi utuh akan kenikmatan. Dan kita hanyalah pecahan cangkir yang menjaga kepekatan itu." ucapku lembut.
Ia tersenyum, "Ceritakan padaku tentang cangkir itu." ucapnya lemah, dengan tatapan bulan pada mata kirinya. Sedangkan mata kanan itu telah menutup, tidak mampu ia buka rupanya.
"Baiklah." ungkapku dengan helaan nafas panjang.
"Kau tahu, cangkir itu telah pecah saat ini. Menjadi potongan-potongan kecil yang sangat tajam. Sedang kepekatan itu mengalir ke segala arah, menciptakan kegelapan di semesta ini. Matahari, bulan, dan bintang-bintang adalah pecahan cangkir itu. Pecahan yang memberi manfaat pada pecahan lain, yaitu kita. Setiap pecahan memiliki pemikiran tersendiri, yang berbeda dengan pecahan-pecahan lain. Pecahan yang saat ini hidup menggantung pada 'kepekatan' itu sebagai wadah keberadaannya. Kepekatan itu sangat buruk, memisahkan setiap pecahan dengan jarak yang berbeda-beda. Lalu menjejalnya dengan kenikmatan yang membuai setiap waktu. Sehingga pecahan-pecahan itu sekarang menjadi sosok individualis, tidak butuh pecahan lain. Atau bahkan hanya menyerap keberadaan pecahan lain untuk keuntungan pecahannya sendiri." ucapku panjang lebar dengan gerakan tangan agar penjelasanku tergambarkan sempurna.
"Jadi, apa yang harus dilakukan selanjutnya?" tanya perempuan itu dengan lemah.
"Kembali." jawabku singkat.
Ia sedikit heran. "Kembali pada apa?" tanyanya lagi.
"Kembali pada ketiadaan. Mati." ucapku.
Ia diam sejenak. Memandangku heran dengan satu matanya.
"Matilah jalan kembali itu. Kau tahu apa yang membuat penderitaan dan masalah pada setiap mahluk hidup saat ini? Itu adalah akibat dari mereka yang terus-menerus berkembang biak. Memproduksi lagi pecahan-pecahan baru, namun tumbuh dengan hakikat lama. Artinya, mereka menciptakan siklus penderitaan abadi. Itulah yang tidak mereka sadari hingga kini." lanjutku menjelaskan.
Perempuan itu mulai terisak. Air mata mengalir dari celah mata kirinya.
"Saat ini semua pecahan itu sedang kebingungan. Berupaya menuntaskan masalah yang dibuatnya sendiri. Namun mereka terlalu bodoh dan gengsi untuk berpikir sederhana." aku terdiam sesaat. Melihat perempuan ini apa masih menyimak penjelasanku.
"Mereka, atau pecahan-pecahan itu, selalu bersusah payah menciptakan sesuatu yang baru sebagai solusi masalah sebelumnya. Dengan begitu pula mereka menciptakan masalah baru. Lalu berpikir lagi menyelesaikan masalah dengan solusi terjauh yang bisa mereka dapatkan." ujarku melanjutkan penjelasan yang belum selesai.
"Siklus itu tidak akan pernah berakhir. Sampai mereka sadar solusi sebenarnya adalah melenyapkan diri mereka sendiri." sambungku lugas.
Perempuan itu mulai mengeluarkan rintih tangisannya. Dengan segenap tenaga yang masih tersisa, ia memasukkan jari-jari tangannya ke dalam luka yang menganga di lehernya. Menarik celah daging merah pekat itu agar menganga lebih lebar lagi. Suara cekukannya terdengar aneh, bersamaan dengan tubuhnya yang mulai bergetar hebat. Darah mulai menciprati wajahku, menciptakan bintik-bintik kecil merah yang amis. Tapi aku terus memperhatikannya. Memperhatikan usaha perempuan ini membuka jalan kematiannya. Tanpa ekspresi, aku terus menatap mata bulan itu. Dalam, merasuk lebih dalam lagi. Hingga aku melihat pantulan diriku pada matanya. Potretku sangat jelas di sana, sayap dan tandukku.
"Huda!"
Aku tersentak, seseorang memanggil namaku. Aku melihat ke arah orang itu. Ia terengah-engah, berlari dari kejauhan. Beberapa butir peluh terlihat berjalan di pelipis mata kanannya. Aku mengenalnya, orang ini bernama Azhar. Pemuda yang sering kujumpai di pasar.
"Lari, Huda! Orang-orang desa menggila. Mereka melukai diri mereka sendiri dan juga orang lain. Larilah!" teriaknya sembari berlari melewatiku.
"Jauhi desa itu, cepat pergi dari sini!" sambung teriaknya dari kejauhan.
Aku yang melihat gelagat konyol Azhar hanya mengerutkan kening. Setelah ia menghilang dari pandanganku, aku beralih melihat rumah-rumah di desa itu. Rasa penasaran semakin menjadi, aku berlari ke arah desa. Menghampiri bangunan-bangunan yang tidak terlalu padat antara bangunan satu dengan yang lain. Mulai terdengar suara teriakan banyak orang saat mendekati rumah-rumah itu. Nafasku terengah-engah berlari cukup jauh dari tempatku tadi.
Sesaat aku terdiam. Tidak percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Azhar benar, mereka menjadi gila. Mereka melukai diri mereka sendiri. Salah seorang pria paruh baya di sana memotong lidahnya sendiri menggunakan sebilah awis. Lalu ia menelan potongan lidah itu bersamaan dengan darahnya. Sedangkan para wanita mulai melepaskan pakaian mereka. Menyarit perut mereka masing-masing, lalu mengeluarkan setiap isi di dalamnya. Begitu juga dengan yang lain. Mereka berpesta darah segar saat ini. Wajah mereka menampakkan kesakitan yang sangat, namun mereka tak sanggup mengendalikan tubuh mereka. Dua orang anak terlihat sedang memegang erat tubuh seorang lelaki. Satu di antaranya memegang tubuh sang lelaki, sedangkan anak lainnya mulai mengiris leher lelaki itu. Mengiris dengan kasarnya, seperti mengiris daging sapi yang gempal di pasar-pasar. Ada apa ini?
Tubuhku hanya dapat memaku menyaksikan kejadian gila ini. Semua terlihat berputar-putar, tidak ada warna pengalih perhatian selain merah pekat. Aku merasa ingin memuntahkan sesuatu.
"Huda! Kau datang juga rupanya." teriak seorang lelaki tua yang muncul dari balik rumah yang pemiliknya telah terkapar tanpa kaki.
"Inilah yang kumaksudkan. Mereka memberiku undangan hukuman mati dari penderitaan mereka." teriaknya kegirangan.
Orang tua itu adalah Edi, si banyak nama. Orang yang memberiku tempat tinggal di ujung jalan desa ini. Ia terlihat sangat bersih, sangat rapi dengan kemeja putih yang ujungnya ia masukkan ke dalam celana jeans biru keabu-abuan. Gaya orang-orang dulu, pikirku. Terselip juga mawar merah di sela kantong kemeja putihnya. Ia terlihat menggenggam erat pisau yang panjangnya tak lebih dari penggaris yang anak-anak sekolah biasa bawa. Pisau itu tidak memiliki gagang. Jadi tangan dan tajamnya mata pisau bertemu dan erat bersandingan di tangan kiri orang tua itu. Namun tanpa darah.
"Perhatikanlah, Huda! Keindahan yang sebenarnya." teriak Edi dengan dua tangannya diangkat selayak mempersembahkan adegan sebuah pertunjukan. Ia berjalan mendekatiku. Berdiri di hadapanku dengan tatapannya yang memburu.
"Biar kuberi tahu kau satu hal, Nak. Aku adalah janin kepekatan itu. Aku dibuahi atas nafsu pecahan-pecahan ini. Mereka yang mengirim keberadaanku." ucapnya santai sambil menunjuk orang-orang desa yang sedang asik menguliti diri mereka.
Dengan mata yang berkaca-kaca, ia mendekatkan wajahnya padaku. Kemudian mengendus seperti anjing yang kelaparan. "Hiruplah aroma ketiadaan ini. Wanginya mengalahkan aroma seorang perawan. Dan, dan, coba kau dengar, Huda. Suara bahagia pecahan-pecahan yang sebentar lagi melekat menjadi kesatuan." ucapnya senang sambil beberapa kali tertawa kecil.
"Ingat semua yang telah kuajarkan padamu. Beritahukan pada pecahan-pecahan yang kau temukan nanti, bahwa hidup mereka adalah kesalahan atas satu mahluk. Sudah saatnya menebus kesalahan mahluk itu dalam pengadilan tunggal tanpa hakim. Karena memang tugas kitalah mengedarkan penghakiman pada setiap siksaannya nanti." ucapnya penuh kepastian.
Ia berbicara aneh. Tidak satupun ucapannya yang kupahami. Sekarang aku benar-benar yakin ia memiliki tumor di otaknya. Atau mungkin, ia adalah satu dari jutaan orang yang berupaya memurnikan orang lain dengan petuah-petuah aneh yang sulit dipahami.
Belum selesai aku berpikir, ia semakin mendekatkan dirinya padaku. "Dan, kau. Akan kukatakan satu hal lagi." bisik mulutnya pada telingaku.
"Kaulah mahluk bersalah itu, Huda."
Mata pisau di tangan kirinya menembus kerongkonganku. Aku tersentak kaget, mataku terbelalak menatapnya tajam. Seketika itu hening sekelilingku. Aku seperti tuli sekarang, tidak ada suara satupun di sekitarku. Sejenak aku menyadari orang-orang yang terluka dan mati di belakang Edi mengarahkan tatapannya padaku. Tatapan bulan, merekah pada setiap pecahan-pecahan di desa ini. Sedangkan Edi mulai menyeringai dengan gigi-gigi putih bersih tanpa celah. Ia terlihat menakutkan.
Ruang ini hampa, mulai melesak ke dalam tubuhku. Setiap benda melangkah mundur seperti me-rewind sebuah film. Semua menjauh, menjauhiku. Aku melayang ke belakang, ditarik oleh sesuatu yang tidak terlihat. Pisau yang menancap pada kerongkonganku masuk ke dalam tubuhku. Benda itu merengsek masuk dan keluar begitu saja dengan leluasa. Tubuhku memiliki lubang sebesar bola kasti sekarang. Cukup memperlihatkan siluet paru-paruku yang merah karena darah. Tapi tubuhku tetap mundur, terus-menerus. Melesat di antara partikel-partikel kecil yang tak berbentuk. Kilatan pecahan-pecahan cahaya kecil seperti terbang membentuk kesatuan. Kepekatan ini juga mulai menggumpal, masuk ke dalam kesatuan yang terbentuk oleh pecahan-pecahan itu. Melesak terus dan semakin cepat.
Hingga terang, semua sangat terang. Lalu hening, sunyi yang sebenarnya.
"Mengganggu."

Komentar
Posting Komentar