Puisi; Gugur Tanpa Musim
Gugur Tanpa Musim
Karya RG. Putra
Nyawa-nyawa mereka bertebaran dengan rasa sakit di antara siluet merah dan putih,
Langit bosan menjatuhkan air dan kini menggantikannya dengan potongan daging,
Getarannya mengguncang hati pemangku minggu,
Yang sengaja dipikul awan pekat dengan tiga punuk perusak sendu,
Tak kuat rupanya kulit mereka menahan sambaran angin,
Saat iman menyetir laku tanpa pengamin,
Kurasa insan tak salah murka kepada Tuhan,
Karena firman tak membekukan diri pada pemaknaan,
Bukan teror bukan agama, bukan gagasan bukan iman,
Tak ada aksi tanpa dasar, tolak ukur yang menggantung pada firman,
Lalu semua bersorak, duhai Tuhan yang agung,
Persembahan coba tak cukupkah nikmat untuk Kau tegun?
Kusuguhkan rasa bersyukur,
Kau tuang coba sebagai pengukur,
Kusuguhkan kesal dan murka,
Kau janjikan panas api neraka,
Tak cukupkah hiburan yang kami sajikan sebagai hutang?
Karena surga bagiku tak beda hanya sekedar piutang,
Dan aku marah, marah melihat saudara tak seimanku gugur tanpa musim,
Melihatnya terjatuh atas mereka yang melekat pada amin,
Haruskah ku meminta maaf atau bersorak kemenangan?
Karena semua hanya dipisahkan oleh pembatas kertas antar tulisan dan iman,
Lalu semua sepi, menutup pusaran benci yang meninggi,
Dan mati, acuh termakan persepsi, lagi dan lagi.
14-05-18 RG. Putra

Komentar
Posting Komentar