Cerpen; Sebuah Catatan Kaki



Sebuah Catatan Kaki
Karya RG Putra 
Masih jelas diingatan Ahmad saat ibunya menangis memohon ampun untuk keselamatannya. Di antara kilauan parang-parang yang memantulkan cahaya merah. Parang yang mengoyak leher ayahnya. Yaitu benda yang menjadikan pahlawan hebatnya itu terkulai tanpa kepala di beranda rumah. Tak pernah ia melihat manusia melakukan hal sekeji itu pikirnya. Orang-orang itu seperti binatang, berbuat semaunya. Menjarah, memperkosa, dan membunuh semua orang yang dianggapnya musuh. 
Ahmad memeluk erat tubuh ibunya yang bergetar ketakutan. Ia dapat merasakan ketakutan ibunya menjalar dari sentuhan kulit yang mendekap tubuh mungil anak itu. Namun tangan orang-orang itu menarik paksa tubuh Ahmad dari pelukan ibunya. Melempar tubuh anak berusia sembilan tahun itu ke arah luar. Bergumul dengan tanah pekarangan yang kering dipenuhi debu. Ahmad terbatuk-batuk karena benturan tubuhnya dengan tanah itu. Jelas sudah sekarang, semuanya terpampang jelas. Bagaimana posisi tubuh ayahnya yang terpelungkup kaku tanpa kepala. Bagaimana ibunya mulai dipukuli, ditendang, dan ditelanjangi di teras rumahnya sendiri. Ahmad berteriak dengan nada suara kacau karena tangis serak kerongkongan dadanya. Sesaat seseorang mengangkat tubuh Ahmad yang lemas tak berdaya. Membawanya lari di antara ribuan manusia yang memburu masyarakat di kota itu. Riuh di setiap penjuru kota. Setiap rumah yang disambangi kelompok itu akan jelas bernasib sama dengan Ahmad. Pembantaian berdarah yang menciptakan bau busuk di udara. 
Entah dari mana semua itu berawal. Tak ada yang tahu kepastiannya. Semenjak beragam permasalahan agama mencuat di layar kaca, kondisi masyarakat mulai kacau balau. Partai politik yang menarik-narik permasalahan itu berusaha menggunakannya sebagai alibi visi mereka. Lalu berkonsilidasi dengan tokoh-tokoh agama yang ada. Membuat suatu retorika patriotis dengan menjunjung tinggi nilai-nilai keluhuran adat. Mereka memulainya dengan kata selamatkan. Lalu berkoalisi, kemudian berpuisi, dan akhirnya menciptakan beragam jenis ketentuan: apa yang boleh dan tidak boleh. Semua berdebat, beradu dan diadu oleh media dengan sokongan besar "Sang pihak" penyelamat. Pada akhirnya segala hal adalah politik. Ekonomi, sosial, pendidikan, bahkan agama menjadi sasaran mereka. Semua adalah politik saat ini. Dan ketika agama menjadi sasaran yang menguntungkan mereka, semua kacau. Perang antar agama sekarang menyebar ke segala penjuru daerah. Menciptakan manusia layaknya mesin pembunuh tanpa ampun. Membantai satu sama lain. Menari di atas tumpukan mayat yang berhasil mereka jatuhkan. 
"Jadi, menarik perhatian para tokoh agama adalah hal yang perlu. Agama bagi masyarakat kita adalah segalanya. Dengan kata lain, mereka adalah budak agama mereka. Jadi ketika kita bisa mendapatkan mereka, maka semuanya akan berjalan mulus. Politik itu hebat, agama itu kuat. Jadi untuk berpolitik yang hebat, maka mulailah dengan agama. " Ungkap seorang ahli yang menjadi salah satu pemicu semua ini terjadi. Hilang sudah keindahan negara damai ini. Tidak ada lagi kenikmatan subuh yang mendinginkan raga. Tidak ada lagi siang yang menyegarkan tubuh dengan panas mataharinya. Ketenangan sore yang meneduhkan juga tak ada. Cahaya terbenam bukan lagi warna keindahan, melainkan warna darah selayak mengheningkan cipta untuk malam yang mencekam. Dan malam, adalah penderitaan yang sebenarnya. 
Berkali-kali Ahmad menemukan tempat dengan potongan-potongan tubuh yang berserakan. Ia kelaparan, namun nafsu makan seolah mengendap di sisi lambung paling dalam. Tak ingin ada sesuatu pun yang masuk ke dalam sana. Hanya ada muntah dan muntah. Saat ini Ahmad hanya sendiri. Wanita bernama Esther yang membawanya pergi dari tempat kedua orang tuanya dibantai itu telah hilang. Esther menyerah untuk terus berlari setelah anak panah menancap di paha kirinya. Ahmad mengingat kata-kata terakhir wanita itu, "Semua siksaan ini adalah penyakit. Tak peduli seberapa bersyukurnya kita sebagai manusia, penderitaan adalah hasilnya. Ingatlah nak, orang tuamu tak mati di tangan manusia. Tapi Tuhan mengirimkan kematiannya melalui orang-orang besar itu. Dan kau tak layak dengan ini semua. Sekarang pergilah, jangan melihat ke belakang. Karena memang tak ada Tuhan di belakang sana. Ia ada di depan. Larilah, lari nak. " Ungkapnya dengan air mata meleleh di pipi putihnya. Ahmad menggigil ketakutan. Wanita yang menyelamatkannya sudah tak sanggup lagi untuk menjaganya. Ia menyerah, sudah tak ada lagi pilihan. Ahmad berlari sekencang-kencangnya tanpa menoleh ke belakang. Esther yang duduk bersandar pada tiang lampu merah itu mulai mendengus. Rasa sakit dari tusukan panah itu membuatnya terus mengerang kesakitan. Lalu beberapa orang yang membawa parang, tombak, dan panah menghampirinya. Berbicara tak jelas mereka. Tampak dari kejauhan senyum tipis di wajah Esther, sebelum mata parang itu akhirnya mengiris lehernya dan menambah kelam suasana malam yang mencekam. 
Ahmad melihat sekeliling tampat, ada beberapa orang di sana. Namun tak ada yang saling berkomunikasi, yang ada hanyalah kecurigaan satu sama lain. Jadi selama tak ada salah satu dari mereka yang menyerang itu artinya mereka adalah kaum yang sama, minoritas. Ahmad mengikuti orang-orang itu. Kaki kecilnya mulai goyah untuk sekedar berjalan pelan. Beberapa orang memang melihatnya, namun rasa peduli tersingkirkan atas ketakutan dan kebutuhan diri mereka sendiri. Itu tak penting bagi Ahmad. 
Berhari-hari telah berlalu. Ahmad lupa sudah berapa jauh ia melangkah. Di sepanjang perjalanan, ia banyak mendapat makanan dari beberapa orang yang merasa iba pada dirinya. Itu membuatnya mampu bertahan selama ini. Ahmad sempat mengambil sebuah buku tulis dan pensil di tempat ia beristirahat beberapa hari yang lalu. Ia terus menulis nama tempat yang ia lalui dan peristiwa-peristiwa yang ia alami. Itu adalah cara ia akan mengingat segala peristiwa itu, pikirnya. Sempat Ahmad merasa tenang karena berjalan bersama orang-orang di sekitarnya. Menurutnya tidak akan ada yang terjadi selama ia bersama mereka. Namun, pada suatu hari rombongan orang-orang yang berjalan itu buyar, lari ke segala arah. "Ada serangan!" teriak orang-orang di barisan depan. Ahmad mulai ketakutan. Panah-panah mulai melesat di atas kepalanya. Beberapa orang terlihat rubuh terkena panah-panah itu. Seketika itu juga semua orang merunduk, takut terkena panah algojo-algojo beringas di depan sana. Semua orang berteriak. Ahmad yang dari tadi hanya diam mulai merangkak di antara orang-orang yang juga merunduk ketakutan. Kali ini tidak hanya panah yang melesat, tapi peluru-peluru juga mulai menembus setiap kulit yang dipenuhi keringat itu. Ahmad mulai menangis, matanya yang berair dengan samar melihat kucuran darah saat menembus kepala wanita di hadapannya. Daging segar dengan potongan-potongan kecil berwarna merah berserak di atas tanah. Matanya terlihat terbelalak menyisakan ekspresi terkejut yang tak karuan. Muntah lagi Ahmad, tepat di dekat wajah wanita yang isi kepalanya terbuyar segar. Pelan-pelan Ahmad menjauhi ladang kematian itu dengan merangkak di atas tubuh-tubuh yang terkulai lemas tanpa nama. Matahari siang menambah panas suasana hari itu. Tuhan seakan berpaling, tidak peduli apa yang terjadi di sana. Mungkin Ia sedang sibuk dengan umat-Nya yang diuji dengan gelimang harta dan minyak. Lalu lupa akan mereka yang mati segampang menginjak semut. 
Sementara Ahmad merangkak pelan dengan gundah demi keselamatannya. Di tempat lain para pembesar-pembesar itu tengah berdebat hebat. Bukan untuk menghentikan apa yang sedang terjadi. Namun lebih kepada perdebatan politik yang tak usai-usai. Bukan hanya mereka yang pura-pura tak melihat. Kemana para malaikat itu? Apa sedang sibuk menangkapi para iblis yang berlari-larian di Bumi dan Surga? Lenguh Ahmad yang ketakutan. Tak ada alasan bagi Ahmad untuk berpikir tentang keselamatan yang datang atas mukjizat. Baginya, sudah tak ada lagi harapan yang hidup di tanah itu. Harapan hanya bagi mereka yang membunuh dan mati. Sedangkan untuk mereka yang diburu, hanya ada dua pilihan, pasrah dan kafir. Semua permasalahan itu berputar-putar di kepala Ahmad. Tak bisa lagi ia membayangkan wajah ayahnya yang setiap siang membawakan minuman dingin untuknya sepulang sekolah. Atau bagaimana cantik ibunya yang sedang beribadah di malam hari. Gelak tawa mereka bertiga saat menyaksikan acara tv kesukaannya. Hilang sudah semua itu. Terpisahkan oleh tajamnya parang-parang yang berkilat dari kejauhan. Benda yang bertindak sebagai Tuhan. Memotong setiap takdir, membentuk rasa takut yang menggigit, kemudian menjadi hakim antar hidup dan mati. Namun tak satupun dari mereka yang paham atas apa yang mereka lakukan. Atau apa yang akan mereka ciptakan setelah semua ini berakhir. Bukankah mereka orang-orang yang beragama juga? Tidakkah agama mengajarkan kebaikan yang mutlak? Lalu apa alasan mereka melakukan ini? 
Pertanyaan-pertanyaan itu takkan ada yang menjawabnya. Ahmad yang sedari tadi mencoba lari dari tempat kematian itu pun sudah menetapkan pilihan. Takkan ada yang menantinya di ujung perjalanan ini. Bahagia itu sudah berakhir saat kedua orangtuanya meninggal. Jadi percuma melarikan diri lagi. Ia hanya duduk bersandar pada tembok pertokoan bersama beberapa orang yang tak dikenalnya. Ini mungkin bukan akhir dunia pikirnya, tapi cukup untuk membuat akhir dari dunia yang ia miliki. Dunia yang ia ciptakan bersama dua orang yang membesarkannya. Dan agama yang membentuk setiap ruas dan tiang-tiang kehidupannya yang sederhana. Suara-suara tembakan semakin jelas terdengar di telinga Ahmad. Wajah kecilnya tak menampilkan ekspresi apa-apa lagi. Cukup sudah rasanya. Pelarian ini tak menghasilkan apa-apa. Cukup sudah. 
Menetes air mata Iz ketika membaca tulisan usang pada buku yang diberikan seorang pengungsi hari itu. Iz tak menyangka apa yang telah dialami orang-orang ini di negara mereka sendiri. Terutama Ahmad, yang sekarang tak diketahui keberadaannya. Orang yang memberikan buku catatan pada Iz mengaku tak bertemu dengan Ahmad. Ia hanya menemukan buku itu sudah ada di dalam tas yang dibawanya. Mungkin Ahmad tewas setelah penyerangan terakhir itu. Setelah ia menyelipkan buku tulisnya pada tas orang ini. Iz membuka bagian terakhir dari buku itu, ada pesan di sana. Pesan yang membuat Iz terkejut dan menangis tersedu layaknya bayi. 
"Dari Ahmad untuk Tuhan. Tuhan, mengapa Kau menciptakan manusia jika Engkau tahu apa yang akan mereka lakukan? Tuhan, tak cukupkah hiburan yang kami sajikan atas pembantaian ini untukmu? Kumohon cukuplah, aku akan menanggung semua dosa manusia, asalkan Kau menghentikan ini semua. Biarkan aku yang menanggungnya. Aku sudah merasakan kesakitan yang sebenarnya. Jadi ketika di neraka nanti, aku sudah terbiasa. Tolonglah Tuhan, sekali saja Kau kabulkan doaku. Aku hanya seorang anak kecil yang mengharap kebaikanmu. Tolong jaga ibuku, hapuskan ingatan bagaimana tajamnya parang yang menusuk-nusuk tubuhnya waktu itu. Selamatkan ayahku, buat ia lupa rasa sakit ketika ia dipenggal. Limpahkan rasa sakit itu padaku, untuk kebahagiaan mereka dan diri-Mu. "




Kroya, Lingsar
29-04-18

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rantok dalam Tradisi Maulid Adat Suku Sasak Bayan, Lombok Utara

Nyongkolan: Sebuah Tradisi dalam Sudut Pandang Masyarakat Sasak

Puisi; Jangan Lelap Dulu