Cerpen; Sujud Sang Anarki


Sujud Sang Anarki
Karya RG.  Putra

Empat bola mata itu menatapku tajam. Menerawang mereka pada setiap lekuk wajah dan tubuhku. Intimidasinya terasa menjalar pada setiap syaraf yang memompa jantungku berdegup lebih cepat. Bola-bola mata itu tepat berada di depan sajadahku. Posisi mata mereka sejajar, selayaknya orang yang duduk berdampingan. Hanya saja aku tak yakin apakah mereka manusia atau tidak. Aku ketakutan, namun berat rasanya mengumpulkan nafas untuk berteriak dan meminta tolong di saat bulan sedang menidurkan bumi.

Salah satu pemilik bola mata yang berada di kiriku mulai mengeluarkan suara. Ia berkata, "Apa yang kau lakukan di malam seperti ini? Apa kau mencari Tuhan?" Ia diam sejenak, mungkin menungguku melontarkan sebuah jawaban. Namun aku terlalu takut untuk mengeluarkan kata-kata.

"Aku mengenal dirimu sangat baik, kau bukanlah orang yang mudah mempercayai suatu hal. Kau tahu, Tuhan tak berada di sini. Ia hanyalah mitologi yang hidup untuk menutupi kegusaran manusia akan hal-hal yang tak bisa dijelaskan dan dibuatnya. Jadi tak perlu merepotkan diri melakukan hal ini." Ujarnya dengan lembut dan sopan. Aku ingin menyangkal setiap kata yang ia lontarkan.

Seperti terajam rasanya hati ini mendengar kata-katanya tadi. Namun beberapa hal dari ucapannya itu menempatkan diri pada pemikiran rasionalku. Jadi aku hanya memilih diam. Diam tanpa suara. Diam layaknya lampu jalan yang tak peduli menyinari segala hal, hanya berpaku pada satu bentuk dan sisi.

Ia melanjutkan ujarannya, "Tidakkah aneh, apabila manusia atau kau sendiri, lahir dengan kemampuan berpikir, berlaku, menciptakan beragam hal, dan bahkan memiliki nafsu yang memang telah didesain khusus sejak awal, harus kau tahan dan membatasi semua itu. Itu adalah kodratmu, mengapa membatasi hal yang memang menjadi kodratmu? Mengapa kau harus menjadi orang yang alim, penyabar, taat, beriman atau apapun itu ketika kau tahu bahwa kau adalah manusia? Hanya "Ia" yang berlabel Tuhan yang dapat melakukan itu. Jadi berhentilah berusaha menjadi Tuhan, kau adalah manusia!" Ungkapnya dengan tegas. Kali ini nada suaranya mulai meninggi. Alhasil aku semakin kaku. Namun kekakuanku ini bukan karena nada suara itu, melainkan makna ungkapan yang diucapkannya terasa mengorek hati dan pikiranku dengan sangat keras.

Aku tak dapat berucap apa-apa. Aku hanya diam. Berharap mata yang berada di sebelah kanan menolongku membalas kata-kata yang baru saja kudengar. Sepengetahuanku, sisi kanan adalah kebaikan dan lawan dari asumsi sisi kiri. Aku berharap padanya.

Tak lama kemudian sisi kanan berucap, "Kau mendengar kata-kata barusan? Itu adalah mutiara yang kau temukan di telaga. Garam yang kau temukan di larutan gula. Tanah yang kau temukan di gurun Sahara. Udara yang kau temukan di dalam laut Bermuda. Dan profesor yang kau temukan di dalam penjara."

Apa maksudnya semua itu? Kurasa itu bukanlah sebuah jawaban ataupun sanggahan atas asumsi sisi kiri tadi. Aku bingung dan juga ketakutan. Tiba-tiba sebuah tangan menjulur dan memegang dahiku kuat. Itu adalah tangan sisi kanan.

"Bangunlah pendosa, sudah cukup pemikiran anarkimu mengendalikan perilakumu. Sudah cukup, surga tak akan pernah menerimamu." Teriaknya kuat dan membenturkan kepalaku ke lantai tempat sajadah itu.

Sontak saja aku terbangun. Tersadar bahwa saat ini aku telah bermimpi di atas sajadah sholatku. Sajadah yang kugunakan tadi untuk melaksanakan sholat malam. Sholat yang menghantarkanku pada kejadian aneh yang tak kumengerti. Aku kemudian beristighfar. Banyak, banyak sekali istighfar. Lalu kulanjutkan dengan dzikir singkat. Meleleh air mata dingin dari kedua bola mataku. Aku berpikir, semua kejadian itu mungkin adalah refleksi dari pemikiranku selama ini. "Oh Tuhan, ampuni pemikiran hambamu yang bodoh ini." Ucapku sambil terisak. Lalu pada akhirnya suara tangisanku mengalun dan ikut mengambil bagian dalam nyanyian sang orkestra malam di hari rabu.


26-03-18
21:58
Pajang

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rantok dalam Tradisi Maulid Adat Suku Sasak Bayan, Lombok Utara

Nyongkolan: Sebuah Tradisi dalam Sudut Pandang Masyarakat Sasak

Puisi; Jangan Lelap Dulu