Piagam Gumi Sasak; Upaya Menyadarkan, Menjaga, dan Meneruskan Amanah Bangsa Sasak


     Bangsa Sasak merupakan kumpulan masyarakat dengan beragam budaya dan keistimewaan di dalamnya. Keeksistensian mereka menjadi simbolisme asli masyarakat Indonesia yang identik dengan sopan santun, toleransi, adat dan budaya. Suku Sasak yang menjadi suku asli Pulau Lombok telah lama hidup dengan beragam kegiatan yang masing-masing memiliki makna tersendiri. Bagi mereka, menjadi suku Sasak adalah suatu berkah yang tak ternilai oleh apapun. Mereka mengartikannya sebagai penerus sejarah yang bersifat linear dan terus menerus mendedikasikan diri sebagai mata rantai keeksistensian budaya dari leluhur mereka. 
     "Tidak ada yang seindah dan sebaik menjadi suku Sasak", ungkap Bapak Murahim selaku dosen Sastra di Universitas Mataram dan pemerhati budaya. Menurutnya, suku Sasak adalah cerminan kemanusiaan yang sebenarnya. Cerminan dari sifat keteladanan manusia antarsesama, kepedulian terhadap alam, dan ketaatan kepada Tuhan yang Maha Esa. Jadi sangat tidak baik apabila keberadaan bangsa Sasak yang sedemikian rupa dilupakan atau bahkan dijadikan sarana untuk memenuhi tujuan politik tokoh-tokoh tertentu yang sejatinya akan membawa akibat buruk bagi bangsa Sasak itu sendiri. Menurutnya harus ada indikator yang menjadi pendorong dan pemicu semangat masyarakat Sasak agar sadar atas jati diri mereka sendiri. Agar mereka tidak mudah dijadikan alat dan terlalu ramah atas perubahan hingga melupakan ciri khas yang ada pada diri mereka. 
     Memanglah benar adanya, meskipun bangsa Sasak identik dengan masyarakat yang beradat istiadat kental, bukan berarti mereka tertutup dengan budaya luar. Mereka justru sangat ramah terhadap perubahan dan globalisasi. Akibatnya, mereka sangat rentan dijadikan sasaran empuk oleh pihak-pihak tertentu yang bertujuan memanipulasi keberadaan mereka untuk kepentingan politik dan lainnya. Hingga kini, telah banyak kebiasaan suku Sasak yang memudar dan terlupakan. Bahkan dalam kasus-kasus tertentu, kebudayaan mereka justru tidak dikenali oleh pemuda-pemudi generasi Sasak saat ini. Oleh sebab itulah orang-orang yang peduli dan mampu melihat fenomena yang samar ini tergerak untuk melindungi dan mempertahankan bagaimanapun juga keberadaan bangsa Sasak. Maka lahirlah apa yang kita kenal saat ini bernama "Piagam Gumi Sasak"  yang tidak lain bertujuan sebagai bentuk upaya membuka kesadaran masyarakat untuk melihat lebih jelas bagaimana kondisi bangsa Sasak itu sendiri. Mereka hendak mengajak seluruh bangsa Sasak untuk bangkit, sadar akan jati diri mereka, dan membentuk suatu barikade untuk melindungi 'nyawa'  bangsa Sasak tersebut. 
     Tidak mudah memang untuk melakukannya, terlebih lagi piagam tersebut terbilang baru dan hanya berkembang di kalangan intelektual yang memang peduli terhadap bangsa Sasak. Untuk itulah, tugas ini menjadi media penting penyaluran aspirasi dan resolusi bagi bangsa Sasak secara keseluruhan. Mereka harus disadarkan atas ancaman yang sebenarnya berasal dari diri bangsa Sasak itu sendiri, yaitu kesadaran dan kepedulian mereka terhadap budaya Sasak yang semakin berkurang. Maka sangatlah penting keeksistensian Piagam Gumi Sasak ini menjadi pemicu semangat bangsa Sasak agar terbangun dari buaian globalisasi yang merusak jati diri mereka. Semoga bangsa Sasak menjadi bangsa yang terus hidup dan memegang teguh jati dirinya di tengah tekanan globalisasi dan interferensi budaya asing melalui Piagam Gumi Sasak. Berikut isi dari piagam tersebut. 

Piagam Gumi Sasak 
Bismillahirrahmanirrahim
     Menjadi bangsa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan mata rantai sejarah kemanusiaan melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam pemikiran bangaa Sasak yang terhampar di gumi paer. Simbol-simbol itu merupakan tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju jati dirinya yang sebenarnya. 
     Perjalanan sejarah bangsa Sasak diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana yang menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keluhuran budaya Sasak. Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengaburan jati diri, sampai pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang berlangsung hingga saat ini. Beralih pencitraan budaya dan sejarah bangsa yang ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern. Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi bangsa imperior yang tak mampu tegak di antara bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanah kefitrahannya sebagai sebuah bangsa. Sadar akan hal tersebut kami anak-anak bangsa Sasak mengumumkan Piagam Gumi Sasak sebagai berikut. 

  1. Berjuang bersama menggali dan menegakkan jati diri bangsa Sasak demi kedaulatan dan kehormatan budaya Sasak.
  2. Berjuang bersama memelihara, menjaga, dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak agar terpelihara kemurnian kebenaran, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya Sasak. 
  3. Berjuang bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya kebudayaan yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dengan menjunjung tinggi nilai-nilai religiusitas dan tradisionalitas. 
  4. Berjuang bersama membangun citra sejati bangsa Sasak baru dengan kejatidirian yang kuat untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan. 
  5. Berjuang bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu dan berwibawa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa Sasak menuju kemaslahatan seluruh umat manusia.  

Mataram, 14 Mulud tahun Jimawal / 1437H. 
26 Desember 2015. 
Ditandatangani bersama kami,

  1. Drs. Lalu Azhar
  2. Drs. H. Lalu Mujtahid
  3. Drs. Lalu Baiq Windia M.Si
  4. TGH. Ahyar Abduh
  5. Drs. H. Husni Mu'adz MA., Ph. D.
  6. Dr. Muhammad Fadjri, M.A.
  7. Dr. H. Jamaludin M. Ag.
  8. Dr. Lalu Abd. Khalik M.Hum.
  9. Drs. H. A. Muhit Ellepaki, M. Sc., 
  10. Dr. H. Sudirman M.Pd.
  11. Dr. HL., Agus Fathurrahman
  12. Mundzirin S.H, 
  13. L. Ari Irawan, SE., S.Pd., M.Pd.

Komentar

  1. Sangat bagus,, smga kta bsa mnjga dan mlestarikn Gumi Sasak.

    BalasHapus
  2. Maha karya anak bangsa.
    Salam Budaya!

    BalasHapus
  3. Sangat bagus, dan dapat menambah wawasan kita terhadap budaya Sasak
    Good Job !

    BalasHapus
  4. Wa rian, besok kita ngomong empat mata ya 😂

    BalasHapus
  5. Pengetahuan yg bermanfaat 😊

    BalasHapus
  6. Sangat bermanfaat terimakasih infonya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rantok dalam Tradisi Maulid Adat Suku Sasak Bayan, Lombok Utara

Nyongkolan: Sebuah Tradisi dalam Sudut Pandang Masyarakat Sasak

Puisi; Jangan Lelap Dulu