Nyongkolan: Sebuah Tradisi dalam Sudut Pandang Masyarakat Sasak

     Berbicara mengenai nyongkolan, maka ruang lingkup pembahasannya tidak dapat terlepas dari keberadaan suku Sasak itu sendiri. Mengingat tradisi ini menjadi salah satu ciri khas yang biasa dilakukan oleh suku Sasak dalam melaksanakan acara pernikahan. Nyongkolan pada dasarnya memiliki dua tujuan utama, pertama kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk pendekatan diri dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberkahan rahmat yang diberikannya dalam bentuk pernikahan. Kedua, kegiatan ini ditujukan sebagai bentuk penghormatan pria terhadap wanita. Karena dalam kehidupan nyata baik dari sisi agama maupun sosial, wanita selalu diposisikan sebagai insan yang mulia. Insan yang memiliki banyak peran dalam hidup yang tidak perlu dipertanyakan lagi kelayakannya untuk dihormati. 
     Kegiatan nyongkolan dari masa ke masa terus mengalami pergesekan dengan kemajuan zaman dan teknologi. Sehingga tahapan-tahapan yang telah terkonsep sejak awal mulai berubah sedikit demi sedikit tergerus atas keterbukaan masyarakat dalam menerima globalisasi budaya yang masuk dalam kehidupan suku Sasak. Beberapa tokoh menjelaskan bagaimana sudut pandangnya terhadap tradisi nyongkolan. Salah satunya adalah Amaq Nurminin, seorang yang dianggap tetua di daerah Karang Temu menjelaskan bahwa nyongkolan merupakan tradisi yang telah lama hidup dan mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Sasak. Kata nyongkolan itu sendiri menurutnya berasal dari kata sondol  yang artinya mendorong. Mendorong di sini dimaknai sebagai bentuk pengiringan pengantin ke rumah mempelai wanita.  Namun seiring dengan berjalannya waktu kata sondol mulai berubah di kalangan masyarakat Sasak menjadi kata yang saat ini kita kenal sebagai “Nyongkolan”. Pada masa-masa sebelum mudahnya penerimaan pengaruh-pengaruh luar, tradisi ini berjalan sangat khidmat dan kentalnya nuansa keagamaan di setiap pagelaran yang dilakukan.  Pada masa itu kegiatan nyongkolan menjadi suatu kegiatan yang sangat dihormati dan pastinya ditunggu-tunggu oleh masyarakat Sasak itu sendiri. Hal ini dikarenakan nyongkolan juga dijadikan sebagai ajang  pertemuan bukan hanya bagi kedua belah pihak yang mengadakan acara saja, tetapi juga masyarakat Sasak secara keseluruhan. Nyongkolan saat ini sudah sangat menyimpang dari makna dan bagaimana seharusnya kegiatan ini dilakukan. Masyarakat Sasak saat ini terlalu mudah menerima segala bentuk kegiatan atau pengaruh budaya luar, sehingga kemurnian tradisi nyongkolan itu sendiri mulai tersingkirkan. Mereka justru dengan bangganya memasukkan unsur-unsur yang sebenarnya tidak ada/dibutuhkan dalam kegiatan nyongkolan. Salah satu contohnya penggunaan alat musik modern yang kita kenal dengan nama Kecimol.  
     “Ada alasan mengapa kita menggunakan alat musik yang disebut Gendang Beleq sebagai pengiring pengantin”, ucap Amaq Nurminin menegaskan. Masyarakat Sasak dulu menganggap gendang beleq sebagai alat musik yang sakral, alat musik yang diberkati memiliki pengaruh magis tertentu dalam melaksanakan suatu kegiatan apapun, lebih khususnya kegiatan tradisi nyongkolan.
     Tidak jauh berbeda dengan pandangan Amaq Nurminin, Amaq Rosidah sebagai salah satu tokoh tetua yang dihormati di daerah Karang Temu juga menegaskan bahwa nyongkolan merupakan tradisi suku Sasak yang  mencerminkan bagaimana sikap masyarakat Sasak itu sendiri. 
     “Nyongkolan nike sebenern gambaran sikap semeton-semeton gumi Sasak”, ungkapnya  tegas dengan logat Sasak yang khas daerah Karang Temu.
     Sikap yang pertama adalah menghormati wanita. Nyongkolan sendiri sebenarnya diperuntukkan untuk pembuktian bahwa anak dari orang tua wanita tersebut diperlakukan selayaknya putri raja dan dihargai kehormatannya sebagai wanita. Sikap kedua adalah kegotongroyongan yang sangat kental. Masyarakat Sasak dalam melaksanakan kegiatan nyongkolan tidak hanya dikerjakan oleh kedua keluarga yang menikah saja, namun seluruh masyarakat Sasak yang tinggal di daerah atau desa mereka itu ikut membantu jalannya pelaksanaan nyongkolan tersebut. Sikap ketiga adalah ketaatannya pada Tuhan yang Maha Esa. Pada dasarnya kegiatan nyongkolan merupakan bentuk atau cara masyarakat Sasak menyampaikan rasa syukurnya terhadap berkah dan tanggung jawab seorang manusia terhadap jalan hidup baru yang akan dilaluinya bersama orang lain (mempelai wanita).
     Berdasarkan pendapat dua narasumber di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tradisi Nyongkolan merupakan sebuah tradisi yang hidup dalam masyarakat suku Sasak dengan beragam pemaknaan dalam kegiatannya. Setiap tahap atau kegiatan yang dilakukan dalam nyongkolan diasumsikan sebagai bentuk penghormatan terhadap wanita dan cara masyarakatnya bersyukur terhadap Tuhan yang Maha Esa.  Selain itu kegiatan nyongkolan ini juga mempererat tali silaturahmi dan menumbuhkan sikap kegotongroyongan antar masyarakat Sasak itu sendiri. Meskipun demikian, adat tradisi ini dari masa ke masa mengalami pergeseran karena dipengaruhi oleh dampak globalisasi, yang dalam hal ini adalah masuknya budaya luar dan kemajuan teknologi. Dampak dari pergeseran tersebut adalah hilangnya kemurnian makna dari tradisi nyongkolan itu sendiri. Nyongkolan tidak lagi dipandang sebagai suatu tradisi yang sakral dengan nilai keagamaan, melainkan hanya sebuah tradisi yang menjunjung kesenangan semata atas suatu pernikahan yang terjadi antar pasangan pengantin. Untuk itulah masyarakat Sasak diharapkan agar lebih mampu menghargai makna tradisi yang ada di lingkungannya. Agar tetap hidup dan diwariskan dari masa ke masa.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rantok dalam Tradisi Maulid Adat Suku Sasak Bayan, Lombok Utara

Puisi; Jangan Lelap Dulu