Cerpen; Sebuah Catatan Kaki
Sebuah Catatan Kaki Karya RG Putra Masih jelas diingatan Ahmad saat ibunya menangis memohon ampun untuk keselamatannya. Di antara kilauan parang-parang yang memantulkan cahaya merah. Parang yang mengoyak leher ayahnya. Yaitu benda yang menjadikan pahlawan hebatnya itu terkulai tanpa kepala di beranda rumah. Tak pernah ia melihat manusia melakukan hal sekeji itu pikirnya. Orang-orang itu seperti binatang, berbuat semaunya. Menjarah, memperkosa, dan membunuh semua orang yang dianggapnya musuh. Ahmad memeluk erat tubuh ibunya yang bergetar ketakutan. Ia dapat merasakan ketakutan ibunya menjalar dari sentuhan kulit yang mendekap tubuh mungil anak itu. Namun tangan orang-orang itu menarik paksa tubuh Ahmad dari pelukan ibunya. Melempar tubuh anak berusia sembilan tahun itu ke arah luar. Bergumul dengan tanah pekarangan yang kering dipenuhi debu. Ahmad terbatuk-batuk karena benturan tubuhnya dengan tanah itu. Jelas sudah sekarang, semuanya terpampang jelas. Bagaimana po...